Skip to main content

Siap-siap Imel Sekolah

Udah sebulan pusing dengan kekuatiran kalau imel nggak diterima di sekolah idaman...

Abisnya imelda (2,5 thn) masih telat bicaranya, walaupun secara fisik sehat sekali. Belum bisa ngucapin kalimat penuh, kalau minta sesuatu udah ada kata-katanya tapi belum jelas, misalnya popi (mobil), mam (makan), papi (habis), nganga (celana), nyonyi (minum??), tutu (susu), dll ada sekitar 100 kata. Tapi kalo diperintah apa aja dia ngerti dan mau melakukan. Belum diterapi bicara, nanti deh sambil dia sekolah playgroup. Emaknya udah dipusingkan dengan harga bensin melambung dan dua anak ini mau masuk sekolah which means money and money and money...
Lagian sih, playgroup sekarang kok ya pake tes segala.

Tesnya itu disuruh masuk ruangan, satu guru menghadapi satu anak, ada tiga guru. Imelda sebetulnya udah familiar dengan lingkungan sekolah, karena sering diajak ke sekolah kakaknya ini. Jadi beberapa guru juga udah tahu kalau imel adiknya ieva. Tes ini diselenggarakannya desember, untuk tahun ajaran Juli 2015 nanti. Sementara di Juli 2015, ieva juga masuk SD.  Selama di ruangan aku lihat imel dengan harap-harap cemas, anak lain udah pada pinter ngomongnya, huhuuu... makin takut deh. Ya ada juga anak yang ortunya harus ikut masuk dan anaknya mogok bicara. Di dalam aku lihat dari luar, imel disuruh main wire game, ama diajak ngobrol tapi ini anak nggak mau ngomong. Yaellah, makin gak tahan aku ngeliatnya, kayaknya tipis harapan bakal diterima dehhh...

Kemarin pengumuman penerimaannya (tgl 15 Desember 2014), di papan pengumuman aku lihat, lha kok cuma ada tujuh nomor??? (hanya nomor aja tanpa nama anak) karena aku lupa nomer formulir imel berapa, aku ngeloyor aja masuk ke ruang admin, ke Bu Sindy admin yang udah biasa aku temuin. Kata dia, tujuh anak ini yang diterima pertama, nanti ada gelombang lagi selanjutnya. Trus aku disuruh cek daftar nama anak yang diterima ada tujuh nama itu.

Hah? Imelda ada di nomor 1. HOREEEEEE... Puji Tuhan, baik sekali Tuhan mau mengabulkan doa kami sekeluarga.  Soalnya kalo nggak diterima disitu, kan harus cari sekolah lain lagi, yang belum tentu jadwalnya sama kyk kakaknya, belum lagi biayanya beda lagi, ribet, belum tentu bagus sekolah lain, dll dll.

Imelda ini anak yang istimewa, hampir selalu membuat cemas ortunya dari dia masih di dalam perut :) Masalah keterlambatan bicaranya? Yah nanti aja deh yang penting dia sekolah dulu, mudah2an nanti seiring waktu dan ada rejeki aku akan terapiin lagi di tempat terapi dia pas bayi dulu. (Klinik Anakku BSD), dulu pas 1 thn udah bisa jalan, kata terapis nanti terapi bicaranya kalo anaknya udah mulai ngomong aja katanya, makanya aku gak langsung masukkan kesana lagi.

Jadi sementara ini, resmilah imelda satu sekolah sama kakaknya, horeeee!

Popular posts from this blog

Mengurus Perpanjangan Paspor Anak Tangerang Selatan

Mengurus perpanjangan paspor anak (paspor biasa, bukan e-paspor) nggak terlalu rumit prosedurnya, untuk area BSD aku ambil di : UNIT LAYANAN PASPOR KANTOR IMIGRASI KELAS 1 TANGERANG Ruko Golden Boulevard Blok E No 5-6, Lengkok Karya, Serpong Utara, Tangerang Selatan 15310 Syarat: Unduh/download aplikasi Layanan Paspor Online Ikuti petunjuk di aplikasi itu (daftarkan email kita, isi data sesuai perintah) Untuk imigrasi BSD ini pendaftaran antrian semua harus dari aplikasi ini, dan bukalah aplikasi ini harus hari Jumat mulai pukul sampai Minggu , itu untuk dapat nomor antrian selama 1 minggu ke depan. Di aplikasi, klik menu Antrian, pilih di peta, kantor Imigrasi tangerang Selatan, pilih hari apa dan jam berapa kita mau ke kantor itu untuk bawa berkas asli dan fotokopi. Jika sudah lengkap semua data, akan langsung dapat nomor antrian dan barcode antrian di hape kita, beserta hari rencana kedatangan.  Sambil menuju hari H, kita lengkapi dulu berkas hadcopynya: Foto...

ITB, Dulu dan Sekarang

Nggak terasa 7 tahun berlalu sejak aku lulus dari bangku kuliah. Tapi bicara tentang ITB "masa dulu", tentu lebih banyak alumni dan pakar yang sukses dan lebih pantas untuk nulis ulasan di blognya, misalnya... Aburizal Bakrie, mungkin? hahaha... *bad idea, tampaknya beliau terlalu sibuk buat nulis blog ITB dari udara tahun 1920-an Mungkin angkatanku, 2001, adalah angkatan peralihan, dimana ITB mulai tahun 2002 mulai memberlakukan penerimaan "jalur khusus" yang dikenal luas sebagai jalur orang pintar (dan berduit). Sejak saat itu lapangan-lapangan di ITB yang rimbun mulai dipugar menjadi parkir mobil. Hanya memakan waktu sekitar tiga angkatan, saat aku lulus di 2005, kedua lapangan besar di depan Aula Barat dan Aula Timur sudah disesaki mobil mahasiswa. Lapangan basket yang terkenal sejak jaman dahulu dengan kerimbunannya mulai dibongkar, yang kini menjadi area Student Centre dengan arsitektur barunya yang minimalis dan gersang. Satu-persatu bangunan kenanga...

My rest area

Bandung, 2003 Rupanya di suatu masa dalam hidup kita, ada saat-saat aku terlalu sibuk dan jarang sempat mikirin orang lain. Boro-boro, mikirin diri sendiri aja jarang sempat, lebih banyak mikirin membesarkan anak-anak, kerjaan, target di masa depan, dan aktivitas harian yang berputar sejak membuka mata pukul 5 subuh sampai tidur malam pukul 23.00. So many things to do, so little time. Namun di tengah-tengah itu, ada masa aku berhenti sebentar, terutama tahun 2017 ini, dimana anak-anakku mulai bisa mandiri, bukan lagi baby yang harus digendong kayak kangguru tiap harinya. Jalan tol pun punya rest area di sisinya. Nggak terasa aku sudah berjalan jauh, 10 tahun lamanya. Tapi jalan nggak sendiri, bersama orang yang paling aku percaya di muka bumi ini.   Tahun ini tahun dimana aku berhenti di rest area itu, memandang jauh jalan di belakang.  Tahun-tahun dengan target-target, angka-angka, penilaian-penilaian, dan PENCAPAIAN. Semuanya nggak ada artinya, kalau aku tidak...